Komposisi sampah plastik di Indonesia menempati urutan kedua tertinggi setelah sampah sisa makanan dalam lima tahun terakhir. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), jumlah ini terus meningkat setiap tahunnya, mencerminkan sistem pengelolaan dan regulasi konsumsi plastik yang belum maksimal.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada lingkungan pendidikan. Gaya hidup praktis di kalangan mahasiswa memicu tingginya penggunaan plastik sekali pakai, mulai dari kemasan makanan hingga botol mineral. Meski sejumlah perguruan tinggi telah merancang program reduksi sampah, implementasi pengelolaan limbah di lapangan dinilai belum sepenuhnya sejalan dengan prinsip keberlanjutan (sustainability) dan nilai-nilai Sustainable Development Goals (SDGs).
Sebagai upaya menekan laju timbulan sampah di area kampus, mahasiswa dapat melakukan langkah-langkah taktis sebagai berikut:
1. Penggunaan Wadah Makan dan Botol Minum Pribadi
Membawa botol minum (tumbler) dan tempat makan sendiri secara signifikan mampu mengurangi ketergantungan pada plastik sekali pakai di kantin kampus. Langkah ini merupakan kontribusi nyata dalam menekan angka produksi sampah harian.
2. Substitusi Kantong Plastik dengan Tas Kain
Menggunakan tas kain atau tote bag saat membeli perlengkapan kuliah atau makanan dapat meminimalkan penggunaan kantong plastik tambahan yang sulit terurai secara alami.
3. Pemanfaatan Limbah Menjadi Benda Fungsional
Sampah plastik yang sudah dihasilkan dapat diolah kembali menjadi barang bernilai guna (daur ulang), seperti pot tanaman, furniture dari botol plastik (ecobrick), atau anyaman fungsional yang dapat digunakan di ruang publik kampus.
4. Edukasi dan Kampanye Kesadaran Lingkungan
Partisipasi aktif dalam menyebarkan informasi mengenai dampak buruk sampah plastik sangat diperlukan. Dukungan terhadap kampanye kampus ramah lingkungan bertujuan untuk mendorong seluruh sivitas akademika agar terlibat dalam aksi pelestarian lingkungan.
5. Penerapan Gaya Hidup Berkelanjutan pada Kegiatan Kampus
Mahasiswa dapat mengintegrasikan konsep ramah lingkungan dalam setiap acara organisasi atau unit kegiatan mahasiswa (UKM), misalnya dengan tidak menyediakan konsumsi dalam kemasan plastik sekali pakai.
Menciptakan ruang kampus yang bersih, hijau, dan berkelanjutan memerlukan sinergi dari seluruh pihak. Perubahan besar bagi lingkungan dapat dimulai dari konsistensi langkah kecil yang dilakukan oleh setiap individu mahasiswa.
Oleh: Khrisna Ilyas Pahlevi





