Mengapa Pelaku Kekerasan Seksual Masih Dibela: Solidaritas yang Salah Arah

0
51

Fenomena segelintir pihak yang membela pelaku kekerasan seksual bukanlah hal baru. Seringkali saat kasus ini mulai mencuat ke publik, selalu ada saja suara yang meragukan korban, membela pelaku, atau bahkan mencoba memutarbalikkan fakta. Pertanyaan yang muncul sederhana, kenapa bisa terjadi? 

Untuk memahami fenomena ini, perlu dilihat bagaimana solidaritas dimaknai dalam berbagai perspektif, seperti salah satunya dari maskulinitas dan feminisme. Berdasarkan sudut pandang maskulin, seringkali ditemukan kesalahan dalam memahami solidaritas sebagaimana mestinya. Justru yang terjadi pelaku mendapatkan pembelaan dengan dalih tersebut. Perkara ini bisa terjadi salah satunya karena pemahaman konsep maskulinitas yang keliru. Ketika nilai loyalitas dijunjung tinggi, akhirnya mendorong seseorang atau kelompok untuk mendukung pelaku karena dianggap sebagai teman atau bagian dari kelompoknya. Kondisi ini dikenal dengan sebutan toxic masculinity. 

Selain itu, masyarakat dengan pandangan maskulinitas yang berlebihan seperti ini akan memandang sebelah mata terhadap kekerasan seksual jika korban adalah gender laki-laki. 

Ada juga faktor lain yang kerap luput dari perhatian. Mengakui kebenaran korban berarti menerima fakta bahwa pelaku bukanlah orang “asing”, melainkan bagian dari lingkungan yang sama, seperti teman, rekan, atau bahkan kelompok sendiri. 

Kesadaran itu memunculkan tekanan untuk mendukung dan melindungi rekan atau kelompoknya demi menjaga martabat, meskipun tahu rekannya jelas bersalah. Dalam situasi tersebut, tidak sedikit orang memilih menyangkal atau membenarkan keadaan, alih-alih menghadapi konflik batin yang muncul. 

Di sisi lain, dari perspektif feminisme, fenomena ini dilihat sebagai bagian dari sistem patriarki dan menjadi budaya yang dikenal dengan istilah rape culture, yaitu kondisi ketika kekerasan seksual secara tidak langsung dinormalisasikan sehingga pelaku dimaklumi sedangkan korban diragukan.

Dalam banyak kasus, seringkali korban korban mengalami victim blaming, yaitu kebiasaan masyarakat yang cenderung mencari kesalahan korban atas apa yang dialaminya. Selain itu, dalam konteks hubungan antara pelaku dan korban, acap kali kuasa menentukan nasib. Tidak jarang sebuah institusi justru lebih memilih menjaga reputasi ketimbang keadilan bagi korban.

Sejalan dengan pemikiran dari bell hooks, seorang pemikir feminis, feminisme adalah gerakan untuk mengakhiri seksisme, eksploitasi, dan penindasan. Pandangan ini menegaskan bahwa ketimpangan dalam melihat korban dan pelaku tidak berdiri sendiri, tetapi berkaitan dengan struktur sosial yang membentuknya.

Pada akhirnya, membela pelaku bukanlah bentuk solidaritas yang sehat. Justru itu adalah bentuk keberpihakan yang memperpanjang rantai kekerasan. Solidaritas seharusnya berarti berani menegur, bukan melindungi kesalahan. Kini pertanyaannya bukan lagi tentang siapa yang dibela, tetapi nilai apa yang dapat dipilih untuk dipertahankan. Karena keadilan tidak pernah lahir dari loyalitas yang buta.

Penulis : Danindra Zalfa Fadhilah 

Editor : Dina Nurria

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here