Minat Mahasiswa terhadap Organisasi yang Kian Berkurang

0
91

Organisasi mahasiswa adalah sebuah wadah bagi mahasiswa yang berfungsi untuk pengembangan karakter, soft skill, dan hard skill. Di organisasi ini, antar anggota memiliki ikatan dan saling bekerja sama untuk mencapai tujuannya bersama. Mereka memiliki struktur, saling bertanggung jawab dan komitmen terhadap tugasnya. Dengan segudang manfaat yang dapat memberikan banyak sekali pembelajaran dan pengalaman, sudah sewajarnya apabila organisasi memiliki banyak sekali peminatnya.

Sebut saja beberapa contoh organisasi tersebut dalam lingkup internal kampus diantaranya seperti, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Senat Mahasiswa (SEMA), Himpunan mahasiswa jurusan, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan lain sebagainya. Untuk contoh organisasi eksternal kampus lainnya seperti Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dan lain sebagainya.

Terlihat banyaknya organisasi mahasiswa yang sudah berdiri tersebut ternyata tidak sebanding dengan zaman sekarang yang kini semakin menunjukkan tren menurunnya minat terhadap organisasi itu sendiri. Menurunnya minat organisasi ini disebabkan oleh berbagai faktor yang tak jarang hal ini juga menjadi perdebatan mengenai kebermanfaatan yang didapatkan, dengan pengorbanan yang telah dikeluarkan oleh anggotanya.

Relevansi Terhadap Dunia Kerja

Sudah tidak mengherankan apabila kini semakin banyak mahasiswa yang berpikir bahwa organisasi tidak relevan dengan praktik di dunia kerja, meskipun dikatakan bahwa dengan berorganisasi akan menjalin pengalaman dan relasi itu sendiri. Melansir dari yoursays.id, mahasiswa saat ini lebih tertarik dengan mencari magang atau pekerjaan paruh waktu. Bukan tanpa alasan, banyak yang berorientasi untuk mencari pengalaman bekerja agar memperoleh sertifikat atau portofolio, sehingga terlihat nyata dan berhubungan langsung terhadap pekerjaan yang diminati.

Selain itu, kebutuhan branding pada media sosial yang membuat mahasiswa lebih memilih membangun pengalaman melalui ruang digital sehingga secara tidak langsung menunjukkan bahwa pencapaian yang mereka inginkan bisa diraih tanpa perlu mengikuti organisasi formal yang dianggap tidak bisa memberi ruang bebas seperti di media sosial.

Tuntutan Akademik

Beban akademik yang tinggi seperti jadwal kuliah, tugas, ujian, atau praktikum yang padat, membuat waktu untuk mengikuti kegiatan non akademik semakin terbatas. Sehingga tidak jarang banyak mahasiswa yang lebih memilih menjadi “kupu-kupu” atau “kuliah pulang-kuliah pulang” karena sudah kehabisan energi dan tidak terlalu berpengaruh pada nilai semesternya. Melansir dari Kemahasiswaan UIN Antasari Banjarmasin, antara tuntutan akademik dengan organisasi menjadikan mahasiswa tidak mudah untuk mengatur waktu dengan baik, akibatnya berpotensi pada penurunan prestasi akademik apabila terlalu berlarut pada organisasi. Prestasi akademik yang menurun tentunya juga berdampak pada penurunan kepercayaan diri, citra diri dan perasaan stres.

Sistem Organisasi Stagnan

Selain faktor internal dan pandangan dari mahasiswa yang kini semakin berbeda, faktor eksternal lain yang menjadi salah satu penyebabnya adalah sistem dari organisasi itu sendiri yang cenderung tidak berkembang, konservatif dan budaya senioritas yang tinggi. Generasi saat ini membutuhkan sistem yang dapat bergerak cepat, kreatif dan fleksibel. Namun banyak organisasi masih menerapkan sistem lama dan formalitas yang seringkali tidak mampu mengikuti perkembangan tersebut. Di samping itu, masih adanya sistem budaya senioritas yang tinggi sehingga menimbulkan ketidaknyamanan yang berdampak kepada perasaan takut atau malas untuk mengikuti organisasi. Selain itu, pengurangan minat Mahasiswa terhadap organisasi ini juga ternyata banyak membawa dampak, contohnya yang terlihat ketika terdapat Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) memiliki anggota yang terbilang sedikit sehingga dapat mengganggu struktural yang ada, serta banyak dampak lainnya.

Lalu, bagaimana solusi untuk dapat meningkatkan minat mahasiswa mengikuti organisasi baik internal atau eksternal kampus? Tentunya dengan semua masalah yang ada, tidak begitu saja menjadikan organisasi harus ditinggalkan begitu saja. Justru hal tersebut wajib dijadikan evaluasi dan perbaikan untuk kemajuan organisasi. Diantaranya :

1. Memutus budaya otoritas yang kaku

Budaya otoritas yang kaku seperti senioritas yang dapat ditemukan pada setiap organisasi harus dihapuskan, alih-alih berguna untuk pendidikan mental, justru yang terlihat di permukaan adalah penindasan. Budaya seperti ini hanya menjadi penghalang untuk kemajuan organisasi. Oleh karena itu, penting untuk menciptakan budaya dengan hubungan yang lebih setara, mengedepankan kolaborasi dan partisipasi aktif.

2. Membentuk program kerja yang lebih inovatif

Program kerja pada organisasi dapat dibuat lebih inovatif. Sehingga dapat menarik rasa penasaran dari mahasiswa. Tentunya hal tersebut melibatkan pemilihan program kerja yang sesuai dengan kebutuhan dan minat mahasiswa itu sendiri.

3. Meningkatkan pendekatan sesama anggota

Tidak jarang terdapat mahasiswa yang tidak nyaman untuk berorganisasi karena melihat lingkaran pertemanan yang tidak erat. Padahal, kunci utama organisasi adalah komunikasi, dan komunikasi yang baik didapatkan melalui hubungan emosional yang baik pula antar sesama anggotanya. Oleh karena itu, penting untuk menciptakan hubungan yang akrab dan saling mendukung satu sama lain. Pendekatan antar sesama anggota juga dapat dilakukan di luar jam kerja organisasi.

Di era yang terus berubah, maka sudah sepatutnya organisasi sebagai wadah untuk menaungi minat dan bakat anggotanya bersifat dinamis dan menyesuaikan. Karena menurunnya minat mahasiswa terhadap organisasi bukanlah hal yang mudah untuk diatasi, perlunya kerja sama dan partisipasi aktif dari para mahasiswa agar bisa terus menciptakan organisasi yang maju dan berkualitas.

Penulis : Luthfia NR

Editor : Dina Nuria

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here