Dalam beberapa tahun terakhir, dapat kita rasakan bagaimana kini penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) sudah bukan lagi sekadar tren, tapi meresap dalam segala aktivitas keseharian kita termasuk juga ke dalam aktivitas akademik mahasiswa. Berbagai data survei menunjukkan bahwa sebagian besar pelajar dan mahasiswa indonesia hampir selalu melibatkan AI dalam aktivitas akademik. Sudah menjadi rahasia umum juga bahwa banyak mahasiswa yang selalu memanfaatkan AI dalam mengerjakan tugas akademiknya hingga tidak jarang hanya sekadar copy paste saja untuk cepat-cepat menyelesaikannya.
Fenomena ini mencerminkan perubahan gaya belajar yang signifikan. Melansir dari tempo.co dalam studi Microsoft, Penggunaan teknologi AI di satu sisi dapat menawarkan akses cepat ke informasi, kemudahan dalam menyelesaikan pekerjaan, dan saran solusi atas soal soal kompleks. Tetapi, di sisi yang lain, efek dari masifnya penggunaan yang tidak bijak bukan hanya dapat menimbulkan ketergantungan saja, tapi juga berpotensi melemahkan daya berpikir kritis mahasiswa.
Tidak hanya berdampak pada aspek intelektualitas, dampak lain yang mulai dirasakan di lingkungan kampus adalah aspek kejujuran akademik. Gejala Ketergantungan pada AI mirip dengan menggunakan shortcut yang bisa memicu plagiarisme dan menurunkan kualitas karya akademik. Hal ini yang wajib dijadikan pengingat bahwa penggunaan AI perlu dibarengi dengan etika dan tanggung jawab.
Jadikan AI sebagai teman berpikir
Meskipun sejumlah penelitian secara umum menunjukkan tingginya tingkat penggunaan AI di setiap aktivitas akademik, hal tersebut tidak otomatis membuat kesimpulan bahwa mahasiswa saat ini telah mengalami degradasi kualitas berpikir. Dengan memahami batasan etika dan menjadikan AI sebagai rekan sebagai pengganti, maka alih-alih ketergantungan, justru penggunaannya dapat meningkatkan daya berpikir kritis pada mahasiswa.
Mengutip dari beberapa sumber, berikut beberapa hal yang dapat dilakukan oleh mahasiswa agar tidak salah dalam memanfaatkannya :
1. Mengatur batas penggunaan AI, menjadikannya alat bantu, bukan substitusi berpikir.
2. Mengasah kemampuan berargumentasi dan menulis sendiri, terutama pada tugas-tugas yang menuntut refleksi dan analisis mendalam.
3. Meningkatkan literasi digital agar mampu memverifikasi hasil AI dan membedakan mana informasi yang benar-benar berguna.
4. Membiasakan diri untuk brainstorming ide yang dimiliki bersama AI.
5. Gunakan AI untuk memahami suatu konsep, bukan mencari jawaban
Penggunaan AI di lingkungan akademik bagaikan pisau bermata dua, yakni sangat membantu ketika dipakai secara tepat tetapi berisiko jika dijadikan pengganti proses belajar. Menjaga keseimbangan antara teknologi dan ketajaman pikiran adalah kunci mahasiswa tidak hanya cerdas dalam penggunaan alat, tetapi juga tajam dalam berpikir.
Penulis : Danindra Zalfa Fadhillah
Editor : Dina Nuria





