Ancaman Pelecehan dan Kekerasan Seksual di Lingkungan Kampus : Kenali Tanda-Tandanya

0
193

Pelecehan dan kekerasan seksual merupakan persoalan serius yang kerap terjadi di berbagai ruang. Topik ini masih menjadi pembahasan yang tabu di lingkup masyarakat. Bisa dikatakan, belum banyak masyarakat yang mengetahui secara mendalam apa itu pelecehan dan kekerasan seksual, sehingga tidak mengherankan jika masih banyak yang menyepelekan perkara ini. Padahal, tindakan ini tidak mengenal usia, waktu, dan tempat. Siapapun orangnya, dan dimanapun tempatnya, peristiwa ini tetap dimungkinkan dapat terjadi. Tak terkecuali di lingkungan kampus, tempat yang seharusnya menjadi wadah ternyaman dan aman untuk menempuh pendidikan justru memiliki sisi kelam yang menimbulkan trauma bagi mahasiswa. 

Sejumlah temuan data menunjukkan kasus kekerasan seksual yang banyak menimpa mahasiswa, salah satunya bersumber dari pusiknas.polri.go.id pada 2025 lalu, mahasiswa menjadi kelompok masyarakat yang menjadi korban kekerasan seksual dan pornografi dengan jumlah sebanyak 2.258 orang dari total terlapor 3.362 orang, mayoritas korban bergender perempuan. 

Ada berbagai faktor yang membuat hal ini bisa terjadi, mulai dari kesenjangan dan penyalahgunaan kekuasaan, stereotip gender yang memandang perempuan sebagai objek seksual, hingga mahasiswa yang masih kurang memahami konsep pelecehan dan kekerasan seksual. Itulah mengapa, penting untuk memahami bagaimana tanda-tanda dari pelecehan dan kekerasan seksual yang seringkali tidak disadari telah terjadi, adapun tindakan yang tidak mengenal waktu dan tempat ini dapat terjadi melalui beberapa bentuk, seperti verbal, non verbal, dan fisik. 

Pelecehan dan Kekerasan Seksual Secara Verbal dan Non Verbal 

Tindakan secara verbal merupakan tindakan yang menggunakan perkataan maupun tulisan yang tidak pantas, seperti merendahkan, menghina, atau merayu seseorang. Bentuk ini dapat terjadi melalui telepon, pesan tertulis, media sosial, atau secara langsung. Sedangkan tindakan secara non verbal lebih banyak menggunakan gestur atau bahasa tubuh. Keduanya dapat muncul secara terpisah maupun bersamaan. Beberapa contoh diantaranya : 

  1. Cara bicara yang cenderung menggoda 

Perilaku ini terjadi ketika seseorang menggunakan intonasi atau sapaan yang bersifat personal cenderung menggoda atau mengarah pada ketertarikan, sehingga menimbulkan ketidaknyamanan pada orang yang menerima. 

2. Komentar tentang pakaian atau penampilan 

Seringkali komentar terhadap penampilan atau busana yang dikenakan seseorang tampak hanya sekedar candaan atau pujian, namun perilaku ini dapat menyiratkan penilaian terhadap tubuh atau daya tarik seseorang jika bersifat personal, mengarah pada seksualitas dan membuat pihak yang bersangkutan risih.  

3. Catcalling dan siulan 

Tindakan seperti siulan atau melontarkan komentar dan panggilan spontan kepada orang lain dengan tujuan tertentu di ruang publik. Seringkali tindakan ini dianggap sebagai bentuk candaan atau pujian, namun pada dasarnya bersifat sepihak dan belum tentu melibatkan persetujuan dari pihak yang dituju sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman, terganggu, atau bahkan terintimidasi, terutama ketika terjadi secara tiba-tiba. 

4. Kedipan mata dan ekspresi wajah yang sugestif 

Perilaku ini muncul ketika seseorang menampilkan ekspresi wajah atau isyarat seperti kedipan mata yang tidak bersifat netral, melainkan mengandung makna tersirat yang mengarah pada ketertarikan atau hal personal hingga menimbulkan rasa tidak nyaman bagi pihak yang menerima.

Pelecehan dan Kekerasan Seksual Secara Fisik 

Setiap bentuk terjadinya kontak fisik yang sarat akan muatan seksual dan menimbulkan rasa tidak nyaman merupakan bentuk dari pelecehan dan kekerasan secara fisik. 

  1. Membelai atau menyentuh bagian tubuh 

Perilaku ini mengarah pada sentuhan yang dilakukan secara sengaja pada area tubuh tertentu. Tindakan ini dapat menjadi kekerasan seksual apabila dilakukan tanpa persetujuan. 

2. Menyentuh pakaian 

Menyentuh yang dimaksud seperti menggesek atau menyentuh pakaian di area tubuh tertentu, lalu menyentuh atau memainkan tali, resleting, atau kancing pakaian dengan cara yang cenderung disengaja dan membuat seseorang tidak nyaman. Meskipun tidak ada kontak fisik secara langsung ke anggota tubuh, namun menyentuh pakaian secara langsung milik seseorang tetap menjadi bagian dari tindak pelecehan apabila dilakukan secara tidak wajar, memicu rasa terganggu, dan membuat pihak penerima merasa tidak dihargai batas pribadinya. 

3. Memeluk atau mencium secara tiba-tiba 

Perilaku ini menunjukkan bentuk kontak fisik yang dilakukan secara impulsif dengan pemaksaan. Selain melanggar batas privasi, hal ini juga berpotensi menimbulkan efek psikologis seperti kaget, cemas, hingga perasaan terancam pada seseorang yang menerimanya 

 

Dari berbagai bentuk tersebut, bisa dikatakan pelecehan dan kekerasan seksual di kampus merupakan salah satu tindakan yang tidak bisa dianggap sepele. Kesadaran dari setiap individu mengenai dampak yang ditimbulkan sangat diperlukan agar dapat mencegah terjadinya tindakan serupa. Dengan mengenali tanda-tandanya, kita sudah mendapati langkah awal untuk dapat lebih peka terhadap situasi di sekitarnya. Lingkungan yang aman dan nyaman tidak terbentuk dengan sendirinya, melainkan karena adanya kepedulian serta tanggung jawab bersama.

 

Penulis : Firyal Nisyrina

Editor : Dina Nurria

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here