Tak Semua Anak Broken Home Tumbuh dengan Jalan yang Sama

0
39

Broken home merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi keluarga yang mengalami perpecahan. Umumnya, kondisi ini terjadi ketika hubungan pasangan suami istri tidak lagi harmonis hingga berujung pada perceraian. 

Merujuk Mindset-Psychology.co.id, istilah broken home dapat terjadi dalam dua kondisi, yakni struktur keluarga yang tidak utuh akibat perceraian orang tua atau ketika orang tua masih bersama tetapi tidak mampu menghadirkan rasa aman dan kasih sayang yang cukup. 

Dampak Broken Home terhadap Anak 

Permasalahan broken home tidak hanya memengaruhi keharmonisan keluarga, tetapi juga dapat berdampak pada perkembangan anak, terutama dalam aspek sosial dan psikologis.

Melansir Alodokter, keretakan dalam keluarga dapat meninggalkan dampak pada kondisi emosional anak. Mereka berpotensi mengalami persoalan seperti kecemasan, trauma, hingga depresi. Selain itu, kondisi tersebut juga dapat memengaruhi perilaku anak dalam berinteraksi dengan lingkungan sosial, salah satunya melalui kecenderungan menarik diri. Tekanan emosional yang tidak tersalurkan dengan baik juga dapat membuat sebagian anak mencari pelampiasan melalui perilaku negatif.

Lahirnya Stigma Buruk 

Tidak hanya berdampak pada aspek psikologis, anak yang tumbuh dalam keluarga broken home juga dikaitkan dengan risiko perilaku yang negatif, seperti kenakalan dan kekerasan, hingga tindakan kriminal lainnya. 

Hal tersebut juga diperkuat oleh penelitian Alfianah dan Sudrajat (2024). Hasil penelitian menunjukkan bahwa keretakan keluarga dapat berpengaruh terhadap munculnya perilaku menyimpang pada anak. Salah satu faktornya adalah kurangnya pengawasan dan teladan dari orang tua. Dalam penelitian tersebut, beberapa bentuk perilaku yang ditemukan antara lain membolos dan pelanggaran terhadap aturan.

Meskipun demikian, terdapat sebagian anak yang melakukan tindakan menyimpang dengan menjadikan latar belakang keluarga broken home sebagai pembenaran atas perilaku tersebut. Kondisi ini kemudian turut memengaruhi munculnya pandangan negatif masyarakat terhadap anak yang tumbuh dalam keluarga broken home.

Tidak Semua Kisah Berakhir Sama 

Pandangan tersebut membuat sebagian masyarakat menggeneralisasi kondisi anak broken home. Mereka kerap dianggap sebagai individu yang kurang mendapat didikan dari orang tua, keras kepala, atau memiliki perilaku kasar. Padahal, latar belakang keluarga tidak dapat menjadi satu-satunya faktor yang menentukan karakter maupun perilaku seorang anak.

Dalam kondisi itu, anak yang tumbuh dalam keluarga broken home justru membutuhkan dukungan, bukan penghakiman. Stigma terhadap mereka perlu diubah, sebab tidak semua anak dari keluarga broken home akan tumbuh dengan perilaku menyimpang. Mengutip penelitian Shannon M. Savell dkk, menunjukkan bahwa perceraian atau kondisi keluarga yang tidak utuh tidak selalu membuat remaja mengalami masalah perilaku. Setelah melihat berbagai faktor lain, penelitian tersebut menemukan bahwa hubungan yang baik antara orang tua dan anak, seperti adanya perhatian, dukungan, serta komunikasi yang positif, dapat membantu mengurangi risiko munculnya masalah perilaku. 

Banyak tokoh terkenal yang memiliki latar belakang dari keluarga broken home, salah satunya Oprah Winfrey. Tokoh media asal Amerika Serikat tersebut tumbuh dalam kondisi keluarga yang tidak stabil dan menghadapi berbagai keterbatasan sejak kecil. Meski demikian, pengalaman tersebut tidak menghentikannya untuk berkembang. Kini, Oprah dikenal sebagai salah satu tokoh inspiratif dunia melalui program talk show berjudul “The Oprah Winfrey Show”.

Hal tersebut menjadi bukti bahwa latar belakang keluarga bukanlah penghalang bagi seseorang untuk meraih cita-cita dan kesuksesan. Banyak anak yang tumbuh dalam keluarga broken home justru menjadikan pengalaman pahitnya sebagai dorongan untuk bangkit dan berkembang. Pada dasarnya, mereka tetap memiliki harapan serta kesempatan yang sama untuk membangun masa depan.

Tumbuh dalam keluarga broken home bukanlah akhir dari segalanya. Nilai dan masa depan seseorang tidak ditentukan oleh kondisi keluarganya di masa lalu, melainkan oleh usaha yang dibangun saat ini. Perpisahan orang tua mungkin meninggalkan luka yang sulit diungkapkan, tetapi setiap anak tetap berhak dihargai atas perjuangan mereka dalam menghadapi berbagai keadaan hingga hari ini.

Oleh: Bunga Rizki Aniaksa

Editor: Dina Nuria 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here