Universitas Pancasila (UP) baru saja menggelar Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) yang berjalan selama empat hari, 14–18 September 2026. Meski membawa konsep dan suasana baru, pelaksanaan PKKMB kali ini masih diwarnai berbagai persoalan, salah satunya yang dialami Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) tingkat universitas.
Muhammad Fikri Rabbani, Ketua UKM KIPAS, menyayangkan tidak tersedianya aliran listrik di area stan UKM. Menurutnya, kondisi tersebut merugikan seluruh UKM, termasuk KIPAS. Pasalnya, ia bersama rekan-rekannya telah merencanakan penampilan band di depan stan sebagai bagian dari upaya menarik minat mahasiswa baru. Namun, rencana tersebut batal karena tidak tersedia aliran listrik yang menjadi kebutuhan dasar selama kegiatan berlangsung.
“Untuk stopkontak sebenarnya jujur sangat merugikan, salah satunya untuk UKM KIPAS. Karena kita kan juga awalnya sudah koordinasi dengan Humas kalau kita akan ada band dan segala macam, butuh stopkontak. Jadi saat hari H tidak ada stopkontak dan aliran listrik itu, kita jadi nggak bisa nge-band,” tutur Bani.
Lebih lanjut, Bani menilai persoalan tersebut merupakan buntut dari kendala komunikasi antara panitia dan vendor. Sebelumnya, ia bersama rekan-rekannya sempat berkomunikasi langsung dengan pihak vendor. Namun, menurut penuturan mereka, vendor mengaku tidak menerima informasi mengenai daftar kebutuhan perlengkapan UKM dari panitia.
“Kenapa saya bisa bilang ini kendala komunikasi sama vendor, karena saat kita list barang kebutuhan, ternyata vendor nggak tahu soal itu. Buktinya ketika kita ngobrol dengan mereka, mereka malah kaget karena tidak ada data kebutuhan yang disampaikan ke pihaknya, padahal kita sudah masukin dalam data yang disediakan panitia,” ujarnya.
Senada dengan Bani, Ketua UKM Pancasila Scooter, Alfaryo Hartanto, juga mempertanyakan kesiapan panitia dalam memastikan ketersediaan kebutuhan UKM. Selain persoalan fasilitas, ia turut menyoroti alokasi waktu saat sesi demonstrasi UKM yang dinilai terlalu singkat sehingga penyampaian informasi kepada mahasiswa baru menjadi kurang maksimal.
“Ketika kita demo UKM dari dalam itu, mungkin durasi penampilannya itu yang saya lihat terlalu dini dan bagi kita untuk demo UKM waktunya terlalu cepat, seperti itu,” ungkap Alfaryo.
Lebih lanjut, Alfaryo juga mengkritisi alur mobilisasi peserta PKKMB yang dinilai belum memberikan ruang maksimal bagi UKM untuk memperkenalkan kegiatannya. Selain itu, pelaksanaan konser musik yang berlangsung bersamaan turut membuat perhatian peserta terbagi sehingga gelaran stan UKM berjalan kurang optimal.
“Waktu untuk ke lapangannya itu juga terlalu cepat ya. Enggak bisa lama gitu di stan dan mereka juga tidak bisa memilih, karena ya banyak juga UKM-nya. Ya mungkin selanjutnya untuk PKKMB ke depannya diperpanjang lagi waktunya, jangan sebentar langsung disuruh ke lapangan, sedangkan kita akhirnya didiamkan aja,” imbuhnya.
Tidak sampai di situ, Josephine, Ketua UKM Tarung Derajat, turut menyoroti persoalan alur mobilisasi peserta PKKMB. Ia mengungkapkan bahwa sebelumnya pihaknya telah memberikan masukan kepada panitia agar peserta diarahkan melewati stan UKM saat perjalanan pulang menuju gerbang utama.
“Itu pasti kesalahan dari panitia, ya. Karena mereka juga kurang koordinasi. Sebelumnya juga dari UKM sempat memberikan masukan ke panitia agar para maba dapat kembali lagi ke stan ketika jalan pulang. Tapi ternyata mereka malah langsung jalan ke gerbang utama. Nah, itu cukup mengecewakan sih. Artinya, komunikasi dari UKM ke panitia PKKMB itu tidak sampai,” kata Jose.
Tim redaksi LPM Gema Alpas telah menghubungi pihak panitia PKKMB 2026 untuk meminta keterangan terkait persoalan yang dialami UKM. Namun, hingga berita ini diterbitkan, pihak panitia belum memberikan tanggapan lebih lanjut.
Penulis: Seni Dela Julianti
Editor: Khrisna Ilyas Pahlevi





