AntigravityUP, Kelompok Mahasiswa yang Mengembangkan Mobil Hemat Energi Menuju Kompetisi

0
13

Keberadaan mobil hemat energi mungkin belum menjadi pemandangan yang umum di lingkungan Universitas Pancasila (UP). Namun, hal tersebut mulai diupayakan oleh sekelompok mahasiswa yang membentuk AntigravityUP, sebuah kelompok yang tengah mengembangkan kendaraan berbasis efisiensi energi untuk mengikuti kompetisi.

Kelompok yang melibatkan mahasiswa dari sejumlah fakultas ini menargetkan dua ajang pada 2027 mendatang, yakni Shell Eco-marathon Asia-Pacific and the Middle East serta Kontes Mobil Hemat Energi (KMHE) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Ahmad Nawawi Nahlan, President Director AntigravityUP, mengatakan pembentukan kelompok tersebut berangkat dari inisiatif mahasiswa untuk menghadirkan wadah pengembangan teknologi kendaraan di lingkungan UP.

“Terkait apakah ini berangkat dari inisiatif kami atau permintaan dari universitas, soal itu sebenarnya proyek ini adalah inisiatif dari tim kita sendiri,” ujar Nawawi.

Lebih lanjut, Nawawi menjelaskan bahwa AntigravityUP bukan merupakan bagian dari tugas perkuliahan tertentu.

“Tim AntigravityUP ini bukan tugas kuliah di Teknik Elektro. Tim AntigravityUP ini adalah tim yang mencakup hampir semua fakultas. Ada Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Teknik, Fakultas Hukum, dan Fakultas Ilmu Komunikasi,” katanya.

Menurut Nawawi, selama ini mahasiswa Universitas Pancasila telah aktif mengikuti berbagai kompetisi di sejumlah bidang. Namun, pengembangan kendaraan berbasis teknologi masih menjadi ruang yang ingin dikembangkan melalui AntigravityUP. 

Membidik Kompetisi Nasional hingga Internasional

Saat ini, AntigravityUP tengah mempersiapkan kendaraan hemat energi yang akan dibawa menuju dua ajang kompetisi pada 2027. Ajang tersebut adalah Shell Eco-marathon tingkat internasional dan Kontes Mobil Hemat Energi (KMHE) tingkat nasional.

Bagi Nawawi, kedua kompetisi tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa Universitas Pancasila untuk mengembangkan kemampuan sekaligus memperkenalkan inovasi di bidang teknologi kendaraan.

Bagi mereka, kedua kompetisi tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa Universitas Pancasila untuk menunjukkan tajinya dalam bidang teknologi.

“Kalau kita bisa lolos ke internasional atau nasional, eksposurnya tentu akan sangat baik untuk tim maupun universitas,” kata Nawawi.

Menurutnya, keikutsertaan dalam kompetisi tersebut juga dapat menjadi langkah awal bagi Universitas Pancasila untuk membangun budaya kompetisi teknologi. Ia melihat sejumlah perguruan tinggi lain telah lebih dahulu memiliki wadah serupa.

“Kalau melihat kampus lain seperti UI atau ITS, mereka sudah punya tim KMHE yang berjalan. Saya ingin UP juga memiliki hal seperti itu,” ujarnya.

Melibatkan Mahasiswa Lintas Fakultas

Pengembangan kendaraan dalam AntigravityUP tidak hanya dilakukan oleh mahasiswa yang memiliki latar belakang Fakultas Teknik. Tim ini melibatkan mahasiswa dari fakultas lainnya dengan pembagian peran sesuai bidang masing-masing.

Mahasiswa Fakultas Teknik menjadi bagian utama dalam pengembangan kendaraan, mulai dari perancangan rangka, sistem kelistrikan, sistem kemudi (steering), hingga proses manufaktur.

Sementara itu, mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi berperan pada aspek desain. Di sisi lain, mahasiswa FEB menangani bidang bisnis dan operasional, terutama membantu penyusunan pendanaan serta pencarian sponsor. 

Adapun mahasiswa Fakultas Hukum mendukung kebutuhan legalitas dan administrasi yang berkaitan dengan jalannya proyek.

Menurut Nawawi, pembagian peran tersebut membuat AntigravityUP tidak hanya berfokus pada proses pembuatan kendaraan, tetapi juga pengelolaan tim secara keseluruhan.

Ia mengibaratkan sistem kerja AntigravityUP seperti sebuah tim Formula 1.

“Kalau dianalogikan, tim ini seperti Formula 1. Bukan cuma ada orang yang bikin mobil, tapi di baliknya juga ada yang mengurus sponsor, desain, operasional, sampai legalitas,” jelasnya.

Selain itu, Nawawi menyebut pola kerja AntigravityUP dirancang menyerupai sebuah startup, di mana setiap anggota memiliki tanggung jawab masing-masing sekaligus ikut berkontribusi dalam perkembangan tim.

Proses Manufaktur Mulai Berjalan

Setelah melewati tahap riset dan perancangan, AntigravityUP kini memasuki tahap manufaktur kendaraan.

Nawawi menjelaskan, desain kendaraan telah selesai dibuat dan proses pengerjaan mulai berfokus pada pembuatan rangka serta sistem kemudi.

“Untuk saat ini kita sudah selesai melakukan proses desain dan lanjut ke proses manufaktur. Kalau dihitung, manufaktur rangka dan sistem steering sudah sekitar 75 persen dan mobilnya sudah bisa berjalan,” jelasnya.

Meski sebagian komponen utama telah selesai, masih terdapat beberapa tahap yang harus dikerjakan, salah satunya pembuatan bodi kendaraan menggunakan material fiber dan resin.

Dalam proses pengerjaannya, tim ini memanfaatkan salah satu kontainer di kawasan Fakultas Teknik sebagai ruang kerja tim. Menurut Nawawi, fasilitas tersebut membantu proses pengembangan kendaraan karena membutuhkan tempat yang mendukung aktivitas manufaktur.

Ia juga mengatakan, keberadaan ruang kerja tersebut menarik perhatian mahasiswa lain yang melihat aktivitas tim.

“Setiap pulang kuliah ada saja orang yang mampir dan bertanya ini sedang proses apa. Menurut saya itu menjadi hal positif karena bisa menarik orang-orang yang punya potensi untuk bergabung,” ujarnya.

Menjaga Keberlanjutan Melalui Regenerasi

Bagi Nawawi, keberhasilan AntigravityUP tidak hanya dilihat dari hasil kompetisi yang akan diikuti, tetapi juga dari keberlanjutan kelompok tersebut ke depannya.

Sejak awal pembentukan, AntigravityUP telah menyiapkan konsep regenerasi agar pengembangan kendaraan tidak berhenti pada satu periode kepengurusan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah memberikan kesempatan kepada anggota baru untuk terlibat dan mempersiapkan calon penerus kepemimpinan.

“Harapannya ini akan tetap dilaksanakan. Dari awal sudah diploting siapa calon anggota yang bisa menjadi penerus, lalu mereka diberikan pelatihan untuk belajar menjadi leader,” katanya.

Menurut Nawawi, proses yang dijalani dalam AntigravityUP menjadi bagian penting bagi mahasiswa untuk belajar mengembangkan inovasi sekaligus menghadapi berbagai tantangan selama pengerjaan proyek.

“Yang ingin saya tanamkan adalah bagaimana mahasiswa bisa belajar dari prosesnya. Kalau salah, kita evaluasi. Karena dari situ kita tahu apa yang harus dilakukan ke depannya,” pungkasnya.

Penulis: Khrisna Ilyas Pahlevi

Editor: Dina Nurria

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here