Aduh, Bagian Roti itu Lagi yang Gosong

0
77

Sudah kesekian kalinya tukang roti diganti, tapi anehnya, roti yang gosong selalu di bagian itu-itu lagi. Bukan di pinggir, bukan di tengah, tapi selalu di titik yang sama.

Kalau tukangnya beda tapi gosongnya identik, artinya ada sesuatu yang selama ini luput dari perhatian.

Sialnya, Ini Bukan Tentang Roti

Selama ini yang sibuk diganti hanya tukang rotinya, dengan harapan masalahnya dapat teratasi.

Padahal, jika orang yang mengerjakannya saja berbeda tetapi hasilnya tetap sama, artinya ada yang tidak beres dalam proses pembuatannya.

Sebab, tukang roti tidak bekerja sendirian. Ia bergantung pada alat, aturan, dan cara kerja yang telah berjalan. Ketika salah satu bagian dalam proses tersebut bermasalah, siapa pun yang bekerja akan menghadapi persoalan yang sama.

Penting untuk membedakan dua hal mendasar, yakni gejala dan masalah. Roti gosong adalah gejala, Roti gosong adalah gejala, sedangkan masalah utamanya terletak pada proses di balik pembuatannya.

Ibarat oven yang tidak pernah dibongkar dan diperiksa, siapa pun yang memegang kendalinya akan tetap berhadapan dengan kemungkinan menghasilkan roti gosong juga.

Tiga Hal yang Sering Terabaikan

Ada tiga hal yang selama ini luput dari perhatian.

Pertama, apakah orang yang bekerja benar-benar memahami cara kerja alat yang digunakan dan proses pembuatan yang dijalankan?

Kedua, apakah orang yang direkrut memang dipilih karena kemampuannya, atau karena kedekatannya dengan pihak yang menentukan pilihan?

Ketiga, apakah setiap kesalahan yang terjadi benar-benar dicari penyebabnya, atau hanya berakhir dengan mengganti tukang roti yang baru?

Selama tiga hal tadi belum benar-benar dibenahi: siapa yang bekerja, mengapa dia yang dipercaya, dan bagaimana setiap kesalahan ditangani, mengganti tukang roti semahir apa pun hanya akan menghasilkan roti gosong yang sama, bukan menyelesaikan inti permasalahannya.

Pada akhirnya, bukan soal siapa tukang roti yang baru, melainkan apakah “oven” yang menjadi tempat seluruh proses itu berjalan akan diperiksa atau kembali dibiarkan begitu saja.

Namun, permasalahan ini bukan tentang roti dan oven. Analogi tadi hanyalah cara sederhana untuk memahami kondisi yang selama ini kita hadapi.

Mengganti pemimpin yang dinilai tidak kompeten belum tentu mengubah keadaan apabila sistem yang membentuknya tidak ikut dibenahi.

Jadi, apakah periode baru setelah vakumnya kelembagaan tertinggi akan menjadi momentum untuk membangun fondasi yang lebih baik, atau kita hanya kembali mengganti tukang rotinya lalu menunggu roti berikutnya gosong lagi?

Penulis: Achmad Nawawi Ahlan

Editor: Khrisna Ilyas Pahlevi

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here