Mengenal Charles Curtis: Wakil Presiden AS yang Tak Mengenyam Pendidikan Formal

0
4

Menyandang jabatan sebagai wakil pemimpin sebuah negara tentu bukan hal yang mudah. Sebagai salah satu pimpinan tertinggi dalam pemerintahan, posisi ini menuntut sosok yang kompeten serta mampu menjalankan tugas dan tanggung jawab kenegaraan. Salah satu hal yang umumnya menjadi perhatian adalah latar belakang pendidikan.

Salah satu tokoh yang menarik untuk disorot adalah Charles Brent Curtis, wakil presiden Amerika Serikat pertama yang berasal dari keturunan penduduk asli Amerika. Meski namanya tidak sepopuler tokoh politik Amerika lainnya, kiprah politiknya meninggalkan jejak yang masih dirasakan hingga kini, khususnya bagi masyarakat adat. 

Menurut catatan biografi Kansapedia milik Kansas Historical Society, Curtis lahir pada 25 Januari 1860 di Topeka, Kansas, Amerika Serikat. Curtis sempat bersekolah di Topeka High School, tetapi tidak menyelesaikan pendidikannya. Setelah meninggalkan sekolah, ia mulai mencari pengalaman melalui berbagai pekerjaan sebelum akhirnya tertarik menekuni dunia hukum.

Untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup, Curtis sempat bekerja sebagai kusir kereta sewaan. Dari pekerjaan itu, ia kerap mengantar para pengacara sehingga mulai tertarik mempelajari dunia hukum. Sambil menunggu para penumpangnya selesai bekerja, Curtis memanfaatkan waktu luang dengan membaca berbagai buku hukum.

Ketertarikan tersebut membuat Curtis bertekad menekuni dunia hukum. Alih-alih menempuh pendidikan di sekolah hukum, ia memilih belajar secara mandiri melalui sistem magang (reading law), metode tersebut lazim digunakan pada masa itu. Berkat kedisiplinan dan kemauan belajarnya, kemampuan Curtis terus berkembang.

Berdasarkan arsip White House Historical Association, pada usia 21 tahun, Curtis berhasil lulus ujian profesi pengacara tanpa pernah menempuh pendidikan hukum formal. Kemudian ia pun memperoleh izin praktik di Kansas dan membuka kantor hukum di Topeka. Langkah tersebut menjadi awal perjalanan politiknya karena mempertemukannya dengan berbagai tokoh berpengaruh di wilayah tersebut.

Karier politik Curtis mulai berkembang ketika ia terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Amerika Serikat pada 1892. Ia kemudian menjabat selama tujuh periode, yakni dari 1893 hingga 1907. Selama menjadi anggota Kongres, Curtis banyak memperjuangkan berbagai isu yang berkaitan dengan negara bagian Kansas.

Salah satu kebijakan paling berpengaruh sekaligus kontroversial yang diusungnya adalah Curtis Act. Kebijakan itu berisi soal Undang-Undang penghapusan sebagian besar kewenangan hukum dan politik suku-suku pribumi di Amerika Serikat. Dari kebijakan tersebut, pemerintah mengambil alih sistem peradilan suku, hukum lokal, hingga kewenangan menentukan keanggotaan resmi suatu suku. 

Pemerintah mengklaim kebijakan tersebut bertujuan mempercepat integrasi masyarakat adat ke dalam sistem pemerintahan Amerika Serikat sekaligus mempersiapkan wilayah mereka menjadi negara bagian.

Namun, kebijakan itu juga menuai banyak kritik karena dinilai mempercepat hilangnya tanah leluhur serta mengikis kedaulatan masyarakat pribumi. Akan tetapi, kebijakan ini tetap diberlakukan  dan disahkan pada 28 Juni 1898

Karier politik Curtis terus menanjak hingga akhirnya dipercaya sebagai Pemimpin Mayoritas Senat pada 1924.

Pengalamannya selama puluhan tahun di DPR dan Senat membuat Curtis dipilih sebagai calon wakil presiden mendampingi Herbert Clark Hoover dari Partai Republik setelah gagal memperoleh nominasi sebagai calon presiden.

Curtis kemudian dilantik sebagai Wakil Presiden Amerika Serikat ke-31 pada 4 Maret 1929. Ia menjadi wakil presiden pertama yang berasal dari keturunan penduduk asli Amerika dan menjabat hingga 1933. 

Pada Pemilu 1932, pasangan Hoover dan Curtis kalah dari Franklin D. Roosevelt dan John Nance Garner. Kekalahan tersebut mengakhiri masa jabatan Curtis sebagai wakil presiden sekaligus menandai berakhirnya dominasi Partai Republik kala itu.

Hingga pada Maret 1933, Curtis meninggalkan jabatannya dan kembali sebagai pengacara di Washington D.C, ia tetap dikenal sebagai tokoh senior yang dihormati dalam dunia politik Amerika. Charles Curtis menghembuskan napas terakhirnya di usia ke-76 akibat serangan jantung pada 8 Februari 1936. 

Kisah Charles Curtis menceritakan bahwa di akhir abad ke-19, dunia hukum dan politik Amerika Serikat ternyata masih memberikan ruang bagi seseorang untuk membangun karier melalui jalur magang dan pembelajaran mandiri. Hal ini tentu sangat berbeda dengan zaman sekarang. Di masa kini, semua hal sudah diatur dengan syarat yang ketat, di mana ijazah dan sertifikat resmi menjadi hal wajib yang tidak bisa dinegosiasikan, sehingga perjuangan seperti yang dijalani Curtis sudah jarang ditemukan dalam konteks zaman modern. 

Walaupun tidak pernah mengenyam pendidikan formal, Curtis tetap berhasil menduduki salah satu posisi tertinggi dalam pemerintahan Amerika Serikat melalui mekanisme yang sah dan diakui pada masa itu.

Penulis: Rose

Editor: Khrisna Ilyas Pahlevi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here